6 Orangutan Akan Kembali Memenuhi Pulau Pra-pelepasliaran

PT. Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) dan Yayasan BOS kembali menyiapkan 6 orangutan yang telah menyelesaikan tahap rehabilitasi di Sekolah Hutan untuk melanjutkan ke tahap pra-pelepasliaran di Badak Besar di Gugusan Pulau Salat, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Dari pemanfaatan Pulau Badak Besar sebagai pulau pra-pelepasliaran, 20 orangutan telah berhasil dilepasliarkan ke hutan.


Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, 18 Desember 2019. Yayasan BOS bersama dengan SSMS kembali memindahkan 6 orangutan yang telah menjalani masa rehabilitasi di Sekolah Hutan Nyaru Menteng untuk menjalani tahap akhir rehabilitasi sebelum kelak dilepasliarkan ke hutan.


Enam orangutan yang dipindahkan terdiri dari 3 jantan (Daryl, Barlian, dan Dius) dan 3 betina (Jati, Amber, dan Adil). Setelah menjalani proses rehabilitasi yang cukup lama di Sekolah Hutan dan kini dinilai telah siap untuk menjalani tahap selanjutnya, mereka akan menjalani tahap pra-pelepasliaran di Pulau Badak Besar, di Gugusan Pulau Salat.


Gugusan Pulau Salat adalah wilayah yang terletak di delta Sungai Kahayan dan dikelola bersama oleh SSMS dan Yayasan BOS untuk dijadikan wilayah konservasi orangutan di Kalimantan Tengah dengan luas wilayah lebih dari 2.000 hektar.


Gugusan Pulau Salat dipilih karena memiliki lingkungan hutan yang menyerupai habitat asli orangutan, dengan sumber pakan alami yang cukup di dalamnya. Survei menunjukkan kawasan ini memiliki hutan berkualitas, terisolasi oleh air sungai sepanjang tahun, tidak teridentifikasi ada orangutan liar didalamnya. Selain itu, gugusan Pulau Salat cukup luas untuk mendukung kemampuan adaptasi, sosialisasi orangutan, serta memiliki cukup ketersediaan pakan orangutan, secara keseluruhan Pulau Salat mampu menampung sekitar 200 orangutan.


Dengan berbagai karakteristik seperti di atas, Pulau Badak Besar sebagai bagian dari Gugusan Pulau Salat dinilai dapat memberikan kesempatan bagi orangutan rehabilitasi untuk mematangkan keterampilannya menyintas secara mandiri di hutan. Pulau ini juga aman karena para orangutan dipantau penuh oleh para teknisi yang terlatih dan berdedikasi. Periode pra-pelepasliaran umumnya berlangsung selama satu sampai dua tahun sebelum orangutan dinilai siap dilepasliarkan ke habitat alami.
 

Setelah pemindahan ini, total orangutan yang ada di Pulau Badak Besar akan menjadi 36 individu. Di sini mereka mengembangkan semua keterampilan menyintas dan mengasah perilaku alami sampai kelak saatnya kembali ke hutan sejati, menyusul 20 orangutan lain dari pulau ini yang telah lebih dulu dilepasliarkan ke Taman Nasional Bukit Baka Raya.


Vallauthan Subraminam, Direktur Utama PT.Sawit Sumbemras Sarana Tbk., mengatakan, “Kerja sama antara SSMS dan Yayasan BOS dalam pra-pelepasliaran orangutan ke pulau Salat untuk kesekian kalinya merupakan suatu penegasan terhadap komitmen kami dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup. Melalui kolaborasi dengan Yayasan BOS yang sangat berdedikasi tinggi dalam melestarikan orangutan dan habitatnya merupakan langkah nyata upaya kami untuk pelestarian lingkungan hidup di Kalimantan Tengah”.


Gugusan Pulau Salat saat ini kami manfaatkan sebagai kawasan yang tetap dipertahankan kealamiannya, pulau suaka bagi orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan di hutan, maupun pulau pra-pelepasliaran bagi orangutan rehabilitasi yang memiliki potensi dilepasliarkan. SSMS dan Yayasan BOS sama-sama melihat proyek ini sebagai suatu inisiatif yang baik dan dapat menjadi inspirasi bagi para pemangku kepentingan. Ini membuktikan bahwa bisnis yang berkelanjutan dapat berjalan selaras
dengan upaya konservasi.”


Dr. Ir. Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS, menjelaskan, “salah satu strategi kami dalam melestarikan orangutan dan habitatnya adalah melakukan pelepasliaran orangutan sesering yang dimungkinkan. Tahun ini saja kami melakukan 6 pelepasliaran di Kalimantan Tengah dengan 57 orangutan kami lepasliarkan. Hal ini berarti kami melepasliarkan hampir 5 orangutan setiap bulan. Saat ini kami masih merehabilitasi sekitar 340 orangutan di Nyaru Menteng, padahal kompleks yang ada idealnya hanya dapat menampung 300 orangutan. Ini membuat kami harus bergerak cepat memastikan orangutan yang lulus Sekolah Hutan masuk ke pulau pra-pelepasliaran.

 

Semakin besar kapasitas pulau, semakin banyak orangutan yang dapat kami pindahkan ke pulau pra-pelepasliaran, dan berarti semakin banyak pula orangutan dilepasliarkan ke hutan, dan memenuhi strategi kami di atas. Pemanfaatan pulau ini sangat membantu kami dalam melestarikan orangutan dan habitatnya.”


Keberhasilan kerja sama pemanfaatan Pulau Salat sebagai habitat pra-pelepasliaran bagi orangutan rehabilitasi tidak terlepas dari peran serta sejumlah para pemangku kepentingan seperti Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, masyarakat di Kecamatan Jabiren Raya dan Yayasan BOS. Yayasan BOS mengapresiasi atas dukungan SSMS dan para mitra global yang telah mendukung inisiatif sangat penting ini.