Pelepas Liaran Orangutan di Pulau Salat

Tanggal 14 Februari 2019 lalu Dewan Komisaris SSMS yaitu Bungaran Saragih, Marzuki Usman , Rimbun Situmorang serta Corporate Secretary Perusahaan berkesempatan untuk melepaskan Rajawali, Meky, Laura dan Molek, yaitu 4 orangutan ke Pulau Salat karena telah memasuki fase akhir pra-lepasliaran sebelum menikmati kebebasan di habitat aslinya. Keempat orangutan yang dilepaskan terdiri dari dua orangutan jantan yaitu Rajawali berusia 9 tahun dan Molek berusia 10 tahun serta dua orangutan betina yaitu Meki berusia 11 dan Laura 10 tahun.
 

Pulau Salat  merupakan lahan untuk pra-pelepasliaran orangutan yang dikelola PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) bersama Yayasan BOS.  Sesuai dengan tata nilai perusahaan yaitu care for the environment, SSMS sebagai perusahaan yang menjunjung tinggi tata kelola lingkungan yang lestari berupaya untuk berkontribusi dalam penyediaan habitat dan pelestarian orangutan sebagai spesies yang hampir punah.
 

Dengan adanya pra-lepasliaran ini, maka total orangutan yang menjalani tahap rehabilitasi di Pulau Salat berjumlah 27 individu, 6 diantaranya merupakan orangutan un-realeasable.
 

Corporate Secretary SSMS, Swasti Kartikaningtyas mengatakan pada akhirnya Pulau Salat diharapkan akan menjadi salah satu tujuan pengembangan ekowisata, sehingga seluruh masyarakat sekitar dapat merasakan manfaatnya, memberikan tingkat kehidupan yang lebih baik dan efek positif terhadap kemajuan ekonomi bagi pemerintah daerah setempat. Inisiatif keberlanjutan yang nyata dari SSMS dimana Perusahaan tidak hanya mengedepankan profit, tetapi juga people dan planet.
 

Bentuk kerja sama ini menegaskan bahwa SSMS sebagai anggota dari Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) bertujuan merehabilitasi orangutan untuk mengembalikan  ke habitat aslinya secara layak.  Ini adalah salah satu cara bagaimana SSMS sebagai pelaku bisnis bisa melibatkan lembaga swadaya masyarakat (LSM), Pemerintah dan masyarakat bekerjasama dalam melakukan proses konservasi hingga berjalan dengan sukses.